Selasa, 22 Maret 2016

Untukmu, tuan.



Tuan,

Barangkali cinta memang harus memiliki.

Barangkali bukan cinta namanya jika tak ada keinginan memiliki..

Tuan,

Berhari-hari sudah kita saling menyapa, berbincang-bincang, meski kadang tak lebih dari sekedar basa-basi.

Ada kalanya kau menghilang, aku gelisah.

Ada kalanya kau datang, aku menjauh.

Suatu hari kau berbicara padaku tentang seperti apa hubungan kita kelak di masa depan, aku tertarik mendengarnya.

Di hari berikutnya aku mendengar kau cemburu karena aku keluar di malam minggu dengan teman priaku, di layar hp aku tersenyum tipis.

Mulai saat itu, hariku slalu diisi olehmu.

Tuan,

Kata orang, lelaki yang baik akan kalah oleh lelaki yang mampu menghadirkan rasa nyaman.

Dan sejujurnya harus ku akui,

denganmu aku nyaman, bersamamu hari ku penuh senyuman, tuan semakin membuatku tertarik.

Aku berharap, aku mencintaimu.

Tuan,

Kadang wanita slalu merasa, lelaki yang berdiri di depannya selalu mempunyai kekurangan untuk bersanding dengannya.

namun menurutku kau mendekati sempurna,

karir, pekerjaan, penghasilan sendiri, kau sudah punya.

Kau baik dan berhati lembut, murah senyum, pengertian, juga humoris.

Kau mengusir kesepian ini, kau solusi atas tekanan dari kedua orang tuaku kepadaku utk segera memiliki pendamping hidup.

Aku jadi berpikir kaulah pria yang tepat.

Tapi tuan,

setelah semua ini mengapa aku belum merasa tuanlah pemenangnya?

Jujur saja,

Melihat foto mesramu bersama perempuan lain disebuah restoran tempo hari, tuan…  aku tak cemburu.

Mendengar namamu  disebut oleh teman-teman kita, hatiku juga tak tergetar.

Tuan,
berat rasanya untuk mengatakan ini.
Senyaman apapun kita bersama, cinta adalah cinta.

Maafkan aku.

Minggu, 04 November 2012

MENGUPAS PROBLEMATIKA PACARAN DIKALANGAN MAHASISWA

Pacaran sudah merupakan hal yang wajar dikalangan mahasiswa. Anda boleh setuju ataupun tidak dengan pernyataan ini. Realitanya dunia mahasiswa biasanya tidak pernah terlepas dari proses mencintai dan dicintai. Kalaupun ada yang tidak suka pacaran, minimal rasa tertarik pada lawan jenis pasti ada. Hal ini merupakan hal yang normal pada tingkat pertumbuhan manusia.
            Pada awalnya pacaran merupakan proses mengenal satu sama lain dengan cara mengikat dan menyatakan hubungan mereka agar dapat mengenal secara intim. Namun pada perkembangannya pacaran disini diartikan sebagai mode atau trend agar tidak ketinggalan zaman. Padahal menurut ajaran islam, pacaran itu jelas dilarang karena dapat berpotensi zina.
            Problematika pacaran yang terjadi dewasa ini dapat kita jumpai pada fase kasmaran dan fase patah hati atau broken heart. Dunia mahasiswa yang lumayan bebas memberikan peluang bagi mahasiswa untuk bolos di jam kuliah demi kencan dengan pasangan mereka. Bahkan waktu dihabiskan untuk pacaran setiap hari tanpa kuliahpun juga bisa dan tak masalah bagi mereka.  Pada umumnya mereka yang pacaran biasanya malas kuliah, kalaupun kuliah biasanya tidak serius karena pikiran mereka terfokus ke pacar mereka masing-masing. Yang jelas pacaran akan menyita waktu, pikiran dan uang atau bahasa kerennya WOMBAT (Waste Of Money, Brain, And Time). Karena ketika asyik pacaran tidak sedikit dari mereka yang tidak mengerjakan tugas, kuliah tidak teratur, bahkan untuk membaca buku pun hampir tidak pernah. Ditambah lagi ketika mereka putus cinta, banyak yang lantas merasa tak bersemangat dan galau. Akhirnya kuliahpun terbengkalai. Walaupun ada sebagian orang yang bisa menjadikan persoalan pacaran ini sebagai ajang untuk meningkatkan motivasi kuliahnya, namun tak jarang dari mereka yang kehilangan semangat kuliah karena hal ini. Meski ini merupakan hal yang terdengar wajar dan cukup remeh, pada kenyataannya persoalan tersebut justru banyak menimbulkan dampak negative bagi kehidupan mahasiswa di dunia perkuliahan seperti yang dikemukakan di atas dan sulit dipecahkan karena menyangkut dengan kondisi psikologis seorang mahasiwa.
Mahasiswa yang kehilangan semangat belajar dapat berakibat buruk ke kuliahnya. Bisa menjadi mahasiswa abadi karena nilai-nilai yang tidak tuntas. Bagaimana jika mahasiswa tersebut terjun ke lapangan? Bisa jadi tak ada ilmu yang dapat diterapkan disana akibat budaya malas kuliah tersebut. Oleh karena itu, seharusnya mahasiswa bisa membedakan antara urusan kuliah dan urusan pribadi. Kuliah adalah prioritas, jembatan menuju sukses di masa depan. Dan pacaran adalah selingan. Jangan hancurkan kuliah hanya karena pacaran. Kita sudah dewasa, sudah tau mana yang benar dan mana yang salah. Mengendalikan diri memang sulit. Namun jangan lupakan harapan orang tuamu padamu ketika kau mulai duduk di bangku perkuliahan. Wujudkan cita-cita dan banggakan orang tuamu.!! Keep spirit and go for it :’)

AKTIVIS VS AKADEMISI


Di dunia kampus, mahasiswa aktivis dan mahasiswa akademisi sering kali bertolak belakang pemahamannya. Bahkan tak jarang mereka saling mengklaim bahwa merekalah yang benar. Bagi kelompok akademisi, kuliah yang tekun merupakan suatu keharusan di dunia kampus. Kelompok ini sangat khawatir dengan nilai yang buruk dan absensi yang tidak lengkap karena sangat berpengaruh dengan target mereka untuk lulus dan mendapat kerja nanti. Kelompok ini lebih memprioritaskan kuliah daripada kegiatan lainnya di kampus. Sehingga menurut mereka tidak perlu mengikuti organisasi-organisasi yang macam-macam.
Sementara kelompok aktivis menganggap kuliah saja tak cukup, mereka harus mencari tambahan pengetahuan dan pengalaman dari luar, bergabung dalam suatu organisasi  misalnya. Menurut mereka di lapangan kerja nanti yang paling banyak dibutuhkan adalah pengalaman berorganisasi dan hal demikian hanya bisa di dapat di dunia organisasi. Ironisnya, sebagian dari kelompok ini biasanya jarang kuliah. Meskipun ada juga aktivis yang rajin kuliah. Kaum yang jarang kuliah ini umumnya memprotes bahwa kuliah tidak ada gunanya, sebab ilmu yang disampaikan dosen hanya itu-itu saja dan bisa di temui di buku-buku pelajaran. Karena jarang kuliah, nilai mereka jadi pas-pasan. Hal ini tak jarang menuai penilaian negative kepada dunia aktivis.
Ibarat kuliah adalah teori dan berorganisasi merupakan prakteknya. Maka teori tanpa praktek adalah nonsense. Oleh karena itu, menjadi aktivis yang berjiwa akademis sesungguhnya merupakan solusi untuk menjawab kontra antara kaum aktivis dan kaum akademisi di atas. Nalar yang kritis dan jiwa yang pemberani untuk terjun dijalan bukan modal yang cukup untuk menjadi ukuran hebatnya seorang mahasiswa sehingga bisa dijadikan teladan bagi mahasiswa lainnya. Oleh karena itu harus diimbangi dengan prestasi akademik yang baik. Faktanya dunia akademik sangat membantu dunia aktivis. Dan dunia aktivis menunjang kaum akademisi untuk berinteraksi di kehidupan sosial sebab orientasi mahasiswa sesungguhnya adalah dapat menerapkan ilmunya dikalangan masyarakat.

Jumat, 17 Agustus 2012

APATIS


                                     
Kemarin, ketika rasa bosan melanda. Gerah dengan hidup yang dikekang oleh masa lalu dan nestapa. Galau.
Gak mau tau dengan apapun. Marah sama keadaan. Labil. Gak peduli dengan toleransi. Melakukan apapun sesuka hati. Tutup mata, tutup telinga. Mengubur keinginan, lalu mencoba keluar dari kuburan itu dan membebaskan diri dari tekanan batin. Melantun bersama hari dengan  penuh rasa malas tau. Menolak rasa penyesalan. Tenggelam dalam hening, lalu tertetakan dengan ricuhnya konflik batin. Kemudian ketagihan dengan rutinitas. Hilang kontrol.  Cape, lalu tenggelam lagi dalam hening. Hingga terbawa nestapa dan kembali  tersesat dengan bayangan masa lalu.
Akh, ini bukan aku yang sebenarnya.
Atau apa aku yang sekarang adalah seseorang hanya bisa menatap ke belakang dan buta akan masa depan? 

Memusingkan dan menyusahkan.
Kampret! Cuma itu kata yg bisa keluar sebagai ungkapan pemberontakan atas diriku.
Namun perlahan  pergantian waktu menawarkan kita realita. Suatu bentuk pembelajaran yang nyata.. bahwa hidup tetap berlanjut. Dan waktu takkan berhenti  dan menunggu kita sampai kita bangkit hanya karna kita terjebak dalam kelabilan.
Dan sepaket kenangan dari masa lalu itu akhirnya harus kusimpan dalam lemari kaca yang berdebu, bersama tumpukan kenangan-kenangan lainnya yang tersusun rapi. Dan entah kegagalan-kegagalan apalagi yang akan datang berikutnya padaku, semoga bisa ku sambut dengan lapang dada. Karena masih banyak rentetan takdir yang harus ku alami. 
Tak ada yang mampu mengembalikan waktu.
Aku tetap aku. Dan ini hidupku.